Langsung ke konten utama

Teori-Teori Sosial (1)

Dalam menulis sebuah tulisan sejarah sosial, para sejarawan perlu adanya bantuan mengenai teori-teori sosial yang bertujuan untuk lebih mudah memahami berbagai permasalahan sosial yang akan menjadi kajian penulisan. Berikut ini beberapa teori-teori sosial :

  • Masyarakat dan Sistem Stratifikasi Sosial
Aristoteles menyebutkan bahwa di dalam sebuah negara terdapat 3 unsur masyarakat, yakni sangat kaya, melarat, dan masyarakat yang di tengah-tengah. Hal ini membuktikan bahwa sejak dulu masyarakat sudah membagi berbagai tingkatan di dalam kelompok sosialnya. Ruang lingkup dari unsur-unsur stratifikasi sosial :
  1. Distribusi hak istimewa
  2. Sistem pertanggaan
  3. Kekuasaan
  4. Lambang kedudukan
  5. Mudah sukarnya kedudukan
  6. Solidaritas
Stratifikasi sosial memiliki tiga sifat yaitu terbuka, tertutup dan campuran
  1. Tertutup (Tidak bisa berpindah dari satu kelas ke kelas lain)
  2. Terbuka (Dapat berpindah dari satu kelas ke kelas lain)
  3. Campuran (Bisa berpindah dan juga tidak bisa berpindah, relatif)
Masyarakat yang menerapkan stratifikasi sosial tertutup bisa kita lihat pada masyarakat India kuno. Pada masyarakat ini terdapat 5 kelas :
  1. Brahmana (pendeta)
  2. Ksatria (bangsawan,tentara)
  3. Vaicya (pedagang)
  4. Sudra (rakyat jelata)
  5. Paria (tidak berkasta)
Selain masyarakat India kuno, masyarakat di daerah Bali juga menerapkan stratifikasi yang bersifat tertutup. Kelasnya pun sama dengan masyarakat India. Namun pada kelas Brahmana,Ksatria, dan Vaicya menjadi sebuah golongan baru yang bernama Triwangsa. Penyebutan golongan ini diperlakukan pada masa kolonial. Dalam masyarakat bali juga terdapat gelar di setiap kelas. Gelar ini didapat melalui cara patrilineal atau mengikuti garis keturunan dari laki-laki.

Dalam kehidupan masyarakat modern juga bisa dilihat stratifikasi masyarakat yang bersifat tertutup. Hal ini bisa dilihat pada masyarakat Amerika Serikat. Stratifikasinya berdasar pada ras atau warna kulit. Stratifikasi ini lebih dikenal dengan sebutan Segregasi. Penerapan stratifikasi berupa perbedaan perlakuan dalam fasilitas umum dan juga kegiatan militer.

  • Problem Sosial Masyarakat
Dalam sejarah dan perkembangan masyarakat yang berbentuk sederhana sampai kompleks, problem sosial yang kerap dialami yakni kemiskinan. Dengan saling eratnya kaitan antara perkembangan masyarakat dengan kemiskinan, maka gejala sosial kemiskinan bisa diangkat dalam penulisan sejarah yang relevan. Terdapat beberapa pokok pertimbangan:

1. Penyebab Kemiskinan
Penyebab kemiskinan menjadi sebuah hal yang relatif dan memiliki makna tersendiri tergantung dari kelompok masyarakat masing-masing. Kelompok masyarakat desa menganggap seseorang miskin ketika tidak memiliki lahan,tanah, atau pertanian. Kelompok masyarakat industri melihat bahwa miskin diibaratkan sebagai orang yang berpenghasilan kecil. Kelompok masyarakat nelayan menjadi miskin saat masa tangkap ikan mengalami kesulitan atau minimnya hasil tangkapan.

2. Kemiskinan Mempengaruhi Suatu Wilayah
Sebuah wilayah dapat membuat kemiskinan sebagai pengaruh dari perkembangan wilayah itu sendiri. Sejarawan bisa melihat bahwa kemiskinan bisa menjadi faktor yang menentukan bagaimana wilayah itu berkembang sehingga membuat sejarah sebuah wilayah akan menyesuaikan.

3. Upaya Pengentasan Kemiskinan
Dalam mengatasi kemiskinan perlu adanya faktor kuat dari pemerintah. Baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pemerintah pusa bisa menjadikan program pengentasan kemiskinan sebagai kebijakan nasional yang diterapkan secara luas. Sedangkan pemerintah daerah bisa menyesuaikan dari kebijakan pemerintah pusat dengan daerahnya masing-masing. Agar tercipta sinergi antara kedua tingkatan pemerintah ini.

4. Hubungan Antara Kemiskinan dan Problem Sosial Lain
Kemiskinan bisa dikaitkan dengan berbagai problem sosial yang lain. Banyak dari problem sosial yang muncul diakibatkan dari sebuah kemiskinan. Seperti tindak kriminal yang dilatar belakangi oleh faktor ekonomi yang kurang. Dan problem lingkungan seperti sanitasi yang buruk akibat tidak berdayanya masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bersih.
  • Agama & Kemajemukan
Di dalam masyarakat kepercayaan atau agama menjadi sesuatu yang pasti muncul akibat dari latar belakang dan sejarah awal dari masyarakat itu sendiri. Agama menjadi sebuah perubahan sosial yang memiliki dua model, model evolusi sejarah dan model kekuatan sejarah. Model evolusi sejarah terdiri dari: 
  1. Perubahan Birokrasi
  2. Perubahan Kelas Penduduk
  3. Perubahan Lokasi
  4. Perubahan Pendidikan
Sedangkan model kekuatan sejarah terdiri dari:
  1. Agama dan Modernisasi
  2. Agama dan Penetrasi Agama Lain
  3. Agama dan Pribadi Kreatif
Agama bisa membuat sebuah kejadian kolektif yang timbul di masyarakat. Seperti pada hari raya nyepi di Bali. Bali yang notabene sebagai daerah yang banyak terjadi kegiatan wisata akan menghormati sebuah ajaran yang berlaku pada masyarakat. Hal inilah yang membuktikan bahwa agama bisa merubah kondisi dan suasana di masyarakat secara umum.
 
  •  Perbedaan Sosial
Perbedaan sosial adalah pembedaan masyarakat secara horizontal atau setara yang dilatarbelakangi oleh perbedaan yang melekat pada tiap masyarakat yang timbul dari kemajemukan sosial. Perbedaan ini didasari oleh:
  1. Diferensiasi Ras
  2. Diferensiasi Etnis
  3. Diferensiasi Gender
  4. Diferensiasi Agama
  5. Diferensiasi Profesi

Komentar