MAKALAH
KESULTANAN BANTEN
Diajukan untuk memenuhi tugas
mata kuliah Pengantar Sejarah Indonesia
Dosen Pengampu:
Dra. Latifatul
Izzah,M.Hum 196606101991032001
Disusun Oleh:
Nashrul Mahfudhin Ersa 180110301066
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JEMBER
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt.
yang telah memberi berkah kepada kita semua. Atas rahmat dan karunia-Nya saya
dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Kesultanan Banten”. Saya ucapkan
terima kasih kepada Ibu Dra. Latifatul Izzah,M.Hum selaku dosen mata kuliah
pengantar sejarah Indonesia.
Saya menyadari bahwa dalam makalah
ini masih banyak kekurangan maupun kesalahan. Untuk itu saya meminta maaf
apabila terdapat kekurangan dan kesalahan. Dan juga kritik serta saran sangat
saya butuhkan untuk memperbaiki makalah ini.
Demikian semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca umumnya dan untuk saya selaku penyusun khususnya.
Jember, Oktober
2018
Penyusun
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Masjid Agung
Demak...................................................................... 9
Gambar 2.2 Sisa
peninggalan istana keraton surosowan..................................... 10
Gambar 2.3 Benteng Speelwijk........................................................................... 11
Gambar 2.4 Vihara Avalokitesvara...................................................................... 11
Gambar 2.5 Meriam Ki
Amuk............................................................................. 12
Gambar 2.6 Istana
Keraton Kaibon..................................................................... 12
Gambar 2.7 Danau
Tasikardi............................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kerajaan Islam
di Indonesia berperan penting terhadap penyebaran islam di Indonesia. Agama
islam membawa dampak yang sangat nyata dalam masyarakat. Perkembangan islam
setelah masa Hindu-Budha juga terbilang pesat. Salah satunya yaitu di wilayah
Banten.
Agama islam
berkembang pesat di wilayah Banten. Mulanya Banten adalah negara bagian dari
Kerajaan Demak. Tetapi saat Demak mengalami kemunduran akibat kekalahan dari
Kerajaan Pajang, maka Banten berhasil melepaskan diri dari kekuasaan Demak dan
mendirikan kesultanan sendiri.
Kesultanan
Banten merupakan wilayah yang sangat strategis. Di daerah ini banyak
kapal-kapal asing yang berdagang di sekitaran Banten. Oleh sebab itu Kesultanan
Banten bisa dibilang sebagai kesultanan yang berbasis maritim. Walaupun juga ada
perkembangan di bidang pertanian, namun hal itu hanya sebatas penunjang.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana awal berdirinya Kesultanan Banten ?
2.
Bagaimana masa keemasan Kesultanan Banten ?
3.
Apa penyebab runtuhnya Kesultanan Banten ?
4.
Apa saja peninggalan dari Kesultanan Banten ?
1.3 Tujuan
1.
Untuk menjelaskan masa awal berdirinya
Kesultanan Banten.
2.
Untuk mengetahui masa keemasan Kesultanan
Banten.
3.
Untuk mengetahui penyebab runtuhnya Kesultanan
Banten.
4.
Untuk mengetahui apa saja peninggalan dari
Kesultanan Banten.
BAB II
PEMBAHASAN
Kesultanan Banten adalah kerajaan islam yang berada di pesisir barat
Pulau Jawa. Pada awalnya Banten adalah salah satu kadipaten dari Kerajaan
Demak. Namun pada perkembangannya Banten berubah menjadi kesultanan yang
berdiri sendiri. Hal ini dikarenakan Kerajaan Demak saat itu mengalami
masa-masa yang sulit. Dimana Kerajaan Demak runtuh akibat kekalahan perang
terhadap musuhnya yaitu Kerajaan Pajang.
Islamisasi Banten terjadi setelah diawali oleh Sunan Ampel, kemudian
dilakukan oleh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Usaha Syarif
Hidayatullah dilakukan bersama 98 orang muridnya mengislamkan penduduk Banten.[1]
Secara perlahan, Islam dapat diterima masyarakat.
Sunan Gunung Jati dan putranya Hasanuddin (Pangeran Sabakingkin), terus
berusaha untuk mengislamkan masyarakat di daerah Banten. Hasanuddin belajar
banyak tentang islam dari ayahnya. Setelah ilmu yang diberikan telah dikuasai,
Sunan Gunung Jati memrintahkan supaya anaknya itu berkelana sambil menyebarkan
agama Islam.
Setelah Sunan Gunung Jati kembali ke Cirebon, Islamisasi dilanjutkan oleh
anaknya yaitu Hasanuddin dengan berdahkwah dari satu daerah ke daerah lain.
Dalam menyebarkan Islam kepada masyarakat pribumi, Hasanuddin menggunakan cara-cara yang telah dikenal oleh
masyarakat setempat, seperti menyabung ayam[2]
dan mengadu kesaktian. Setelah tujuh tahun melakukan tugas tersebut, Hasanuddin
bertemu dengan ayahnya, dan Sunan Gunung Jati membawanya pergi untuk menunaikan
ibadah haji.
Pada tahun 1525,Hasanuddin berhasil mengalahkan Prabu Pucuk Umun di
Wahanten Girang (Banten Girang). Sehingga pada 8 Oktober 1526 atau bertepatan
dengan 1 Muharam tahun 933 Hijriah atas petunjuk Sunan Gunung Jati, Hasanuddin
memindahkan pusat pemerintahan Banten, yang semula berada di pedalaman Banten
Girang ke dekat pelabuhan Banten. Dalam pemindahan pusat pemerintahan tersebut,
Sunan Gunung Jati menentukan posisi dalem dekat kuala Sungai Banten yang
kemudian diberi nama Surosowan. Tempat ini kemudian menjadi ibu kota Kerajaan
Banten.
Karena Banten berkembang begitu pesat, akhirnya pada tahun1552 M, Banten yang
dulunya sebuah kadipaten dari Kerajaan Demak menjadi sebuah kesultanan.
Kesultanan Banten, di bawah kekuasaan Maulana Hasanuddin mulai memperluas
wilayahnya hingga ke Sunda Kelapa, Karawang, Lampung, dan beberapa daerah lain
di Sumatera Selatan. Sunda Sunda Kelapa berhasil ditaklukan pada 1527 dan
ditandai dengan penggantian menjadi Jayakarta. Dengan ditaklukannya Jayakarta,
Banten memegang peranan penting serta dapat menarik perdagangan lada ke
pelabuhannya.
Dalam sejarah Banten, Hasanuddin lebih dianggap sebagai pendiri
Kesultanan Banten karena Sunan Gunung Jati tidak begitu lama berkedudukan di
Banten dan selama Sunan Gunung Jati memimpin, Banten masih terikat oleh Demak.
Akan tetapi, dalam tradisi Cirebon, peranan Sunan Gunung Jati sebagai pendiri
Kesultanan Banten sangat menonjol. Karena perintisan berdirinya kerajaan islam
ini diawali oleh kegitan penyebaran agam islam dan pembentukan kelompok muslim
yang dipelopori Sunan Gunung Jati.
Pada awal abad ke-17 Masehi, Banten telah menjadi tempat berniaga penting
dalam perdagangan internasional (Asia). Kedudukan penguasa setempat ditunjang
oleh kaum bangsawan, yang mempunyai kekuatan local, sedangkan administrasi
pelabuhan, perkapalan, dan perniagaan diurus oleh Syahbandar. Seperti halnya
kota pelabuhan masa itu, di kota Banten terdapat perkampungan penduduk yang
berasal dari berbagai daerah di Nusantara.
Seiring dengan peningkata kegiatan ekonomi yang mendatangkan kemakmuran
dan sekaligus kekuatan negara, Kesultanan Banten berupaya memperluas
wilayahnya ke daerah sekitarnya yang
dipandang dapat menguntungkan perekonomian. Kesultanan Banten juga menjalin hubungan yang baik dengan kerajaan
tetangga seperti Cirebon, Demak, Mataram, dan kerajaan yang dapat meningkatkan
kegiatan ekonomi dan melindungi Banten dari negara lain.
Banten sebagai kota pelabuhan antarpulau bahkan antarnegara kemudian
tumbuh pesat seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan Kesultanan Banten
sebagai kerajaan Islam yang didirikan oleh Syarif Hidayatullah bersama anaknya
Hasanuddin.
Masa kejayaan Kesultanan Banten terjadi pada masa kepemimpinan Sultan
Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682) dikenal sebagai Pangeran Ratu Ing Banten atau Sultan Abdulfattah, gelar lengkapnya adalah Sultan Abu Al Fath Abdul Fattah
Muhammad Syifa Zaina Al-Arifin. Beliau diangkat menjadi Sultan Banten pada
tanggal 10 Maret 1651, menggantikan Sultan Abulmufakhir Mahmu Abdul Kadir.
Sultan Ageng Tirtayasa adalah seorang ahli strategi perang yang dapat
diandalkan. Selain itu, Sultan Ageng Tirtayasa menaruh perhatian yang besar
pada perkembangan pendidikan islam. Beliau mendatangkan guru-guru dari Arab,
Aceh, dan daerah lainnya. Salah seorang guru agama tersebut adalah ulama besar
dari Makassar yang bernama Syekh Yusuf.[3]
Ia kemudian diangkat menjadi mufti agung kerajaan dan juga sebagai penasehat
sultan.
Pada kepemimpinannya, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil mengembangkan
kembali perdagangan Banten. Terbukti saat Banten berhasil menarik perdagangan
bangsa Eropa seperti, Inggris[4],
Prancis, dan Portugis. Selain itu, Banten juga mampu mengembangkan
perdagangannya dengan Persia, Mekkah, Koromandel, Benggala, Tonkin, dan Cina.
Dengan begitu pelabuhan Banten makin ramai dikunjungi para pedagan asing, baik
dari timur tengah (Iran, Arab), Asia (Jepang, Cina, Filipina, Malayu), dan juga
bangsa-bangsa eropa (Inggris, Turki, Prancis). Sehingga pihak VOC merasa
terancam dengan keadaan tersebut.
Sultan Ageng Tirtayasa juga memperluas pengaruh dan kekuasaan ke wilayah
Priangan, Cirebon, dan sekitar Batavia untuk mengantisipasi perluasan wilayah
yang dilakukan oleh kekuasaan Mataram yang telah masuk sejak awal abad ke-17.
Selain alasan tersebut, perluasan wilyah sangat diperlukan guna mencegah
pemaksaan monopoli perdagangan VOC yang bertujuan menguasai Banten secara
politik.
Sultan Ageng Tirtayasa dikenal sebagai seorang sultan yang gigih
menentang pendudukan VOC di Indonesia. Meskipun VOC memaksa untuk memonopoli
perdagangan di Banten, keinginan VOC tersebut selalu tidak kesampaian. Bahkan
pada tahun 1665 dua kapal Belanda dirusak oleh pasukan Banten. Demikian juga
kebun-kebun tebu di daerah Tangerang milik Belanda dirusak, sehingga VOC
terpaksa mentup kantor dagangnya.
Meskipun urusan konflik dengan VOC menyibukkan Sultan Ageng Tirtayasa,
namun beliau tetap melakukan upaya pembangunan untuk wilayahnya. Seperti
membuat saluran air dari Sungai Untung Jaawa hingga ke Pontang. Saluran yang
dibangun sejak tahun 1660 dimaksudkan untuk kepentingan irigasi dan
transportasi dalam peperangan. Upaya tersebut membuat produksi pertanian yang
berada di kanan kiri saluran meningkat, yang berdampak pada kesejahteraan
rakyat dengan meningkatnya penghasilan rakyat serta untuk kepentingan logistic
jika terjadi perang. Pada tahun yang sama didirikan juga sebuah perkampungan
yang dapat menampung 5000-6000 jiwa. Perkampungan ini bertujuan untuk
penyebaran penduduk ke daerah persawahan baru dan benteng pertahanan hidup, serta
persediaan tenaga tempur.
Selain itu, Sultan Ageng Tirtayasa juga membangun keraton baru di
Tirtayasa yang letaknya di dekat pantai sebelah utara Kota Banten. Selain untuk
pusat kegiatan pemerintahan, membangun keratin baru juga dimaksudkan untuk
mengawasi saudagar-saudagar yang keluar masuk Banten dan sekaligus sebagai
benteng pertahanan.
Untuk bidang pemerintahan, Sultan Ageng Tirtayasa juga melakukan
konsolidasi dengan mengadakan hubungan persahabatan dengan Lampung dan
Bengkulu. Hubungan perdagangan juga ditingkatkan dengan cara menjalin hubungan
dagang dan pelayaran terhadap Kerajaan Goa, dengan sumber rempah-rempah di
Maluku.
Sultan Ageng Tirtayasa telah membawa Banten ke puncak kemegahannya. Di
samping berhasil memajukan pertanian dengan sistem irigasi, beliau juga
berhasil membangun angkatan perang, memperluas diplomasi, dan meningkatkan
perdagangan Banten, sehingga Banten menempatkan diri sebagai daerah yang aktif
dalam dunia perdagangan internasional.
Kemunduran Kesultanan Banten berawal dari perebutan kekuasaan antara
Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji (anaknya). Bermula saat Sultan Haji
diangkat menjadi pembantu ayahnya mengurus urusan dalam negeri, sedangkan
urusan luar negeri diurus oleh Sultan Ageng Tirtayasa dan dibantu oleh putera
lainnya. Pemisahan urusan pemerintahan ini didengar oleh wakil Belanda di
Banten, W. Caeff yang kemudian menghasut Sultan Haji. Karena tergoda oleh
hasutan VOC, Sultan Haji curiga kepada ayah dan saudaranya, dan Sultan Haji
khawatir tidak bisa naik tahta karena ada putera lain Sultan Ageng, Pangeran
Arya Purbaya. Kekhawaitran ini menimbulkan persekongkolan antara Sultan Haji
dengan VOC untuk merebut kekuasaan tahta Banten. VOC bersedia membantu Sultan
Haji dengan empat syarat yaitu (1) Banten harus menyerahkan Cirebon kepada VOC.
(2) Monopoli lada di Banten dipegang oleh VOC. (3) Banten harus membayar
600.000 ringgit apabila ingkar janji (4) Pasukan Banten yang menguasai daerah
pantai dan Pringan segera ditarik kembali.
Perjanjian ini diterima oleh Sultan Haji. Dengan bantuan VOC, tahun 1681
Sultan Haji melakukan kudeta kepada ayahnya dan berhasil menduduki istana
Surosowan yang kemudian di bawah kekuasaan Belanda. Pada 27 Februari 1682,
terjadi perang antara Sultan Haji dengan ayahnya. Pasukan Sultan Ageng
Tirtayasa menyerang Belanda untuk mengepung Sultan Haji yang menduduki istana
Surosowan. Penyerangan itu berhasil dan Sultan Ageng Tirtayasa dapat menguasai
istana.
Dengan kondisi tersebut Belanda menawarkan bantuan militer yang lebih
besar kepada Sultan Haji dengan syarat Sultan Haji akan memberi hak monopoli
kepada VOC di Banten. Sultan Haji menerima syarat tersebut.
Pada 7 April 1682 bantuan Belanda datang dengan kekuatan besar membalas
serangan Sultan Ageng Tirtayasa dengan melakukan penyerangan ke istana dan
benteng Tirtayasa di bawah pimpina Francois Tack dan De Saint Martin. Pasukan
ini berhasil membebaskan kepungan Sultan Ageng Tirtayasa.
Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa juga tidak kalah hebat. Ia dengan gigih
meneruskan perjuangnnya dengan bantuan dari pasukan Makassar, Bali, dan Melayu.
Dengan membuat markas besar pasukannya berada di Margasana. Di sinilah ratusan
pasukan dari bantuan yang diterima Sultan Ageng Tirtayasa berkumpul. Namun,
serangan pasukan Belanda berhasil mendesak barisan Banten. Margasana pun dapat
diduduki. Sultan Ageng kemudian mundur ke Tirtayasa yang dijadikan pusat
pertahanannya.
Pada 28 Desember 1682 pasukan Jonker, Tack, dan Michielsz menyerang
Tirtayasa dan membakarnya. Ledakan-ledakan dan pembakaran menghancurkan keratin
Tirtayasa. Akan tetapi, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil menyelamatkan diri ke
pedalaman. Pihak kompeni berusaha untuk mencari Sultan Ageng Tirtayasa dan
membujuknya untuk menghentikan perlawanan. Sultan Haji mengutus 52 orang
keluarganya untuk menjemput ayahnya. Pada malam menjelang 14 Maret 1683 Sultan
Ageng Tirtayasa memasuki istana Surosowan.
Tibanya Sultan Ageng membuat berakhirnya perang antara Sultan Ageng melawan
Belanda. Karena ia ditangkap pada 14 Maret 1683, akibat pengkhianatan puteranya
sendiri yang bersekongkol dengan Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa dipenjara di
Batavia sampai ia meninggal pada 1692.
Dengan ditangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa serta pengikut-pengikut
setianya telah membawa Banten ke ambang penjajahan Belanda. Dengan restu
Belanda pulalah Sultan Haji diangkat menjadi Sultan Banten dengan beberapa
persyaratan dan sebuah perjanjian[5]
berisi 10 pasal yang terpaksa untuk diterima
yang menguntungkan pihak Belanda. Perjanjian ini disetujui dan ditanda
tangani oleh kedua belah pihak. Dengan begitu kedaulatan Kesultanan Banten
telah runtuh.
Dengan ditandatanganinya perjanjian itu, maka lenyaplah kejayaan dan
kemajuan Kesultanan Banten, karena ditelan monopoli dan penjajahan Belanda.
Langkah demi langkah Belanda mulai menguasai Kesultanan Banten. Benteng Belanda
mulai didirkan pada 1684-1685 di bekas benteng kesultanan yang hancur. Benteng
tersebut diberi nama Speelwijk. Dengan begitu, praktis Banten sebagai pusat
kekuasaan dan kesultanan telah pudar. Dan juga peranan Banten sebagai pusat
perniagaan antarnegara telah tertutup.
Selama dikuasai oleh Belanda. Sultan Banten hanya dijadikan boneka.
Kesultanan Banten benar-benar berakhir ketika Herma Willem Daendels pada tahun
1808 ingin membangun Jalan Raya Pos. Daendels memerintahkan Sultan Banten agar
memindahkan ibu kota ke Anyer. Sultan kemudian menolak perintah Daendels.
Akibatnya Daendels menyerang Banten
Perilaku Daendels menjadi perhatian Kaisar Napoleon dari Prancis. Maka
Daendels dipanggil pulang ke negerinya. Perlawanan rakyat Banten akhirnya
mereda ketika kekuasaan Daendels berakhir pada pertengahan tahun1811.
Letnan Gubernur Inggris, Raffles mengakui keabsahan ketetentuan yang
dikeluarkan oleh Daendels untuk urusan Kesultanan Banten. Pada 19 Maret 1813,
ia datang ke istana Sultan Banten dan menyatakan Sultan tidak mampu
menenteramkan daerahnya. Oleh karena itu Raffles memaksa Sultan Muhammad
Syaifuddin membuat perjajian yang menyatakan penyerahan pemerintahan Banten
kepada pemerintah Inggris. Kesultanan Banten pada abad ke-17 telah berakhir.
Selama sekitar 3
abad berdiri Kesultanan Banten telah meninggalkan beberapa peninggalan yang
membuktikan bahwa Kesultanan Banten adalah kerajaan yang pernah Berjaya dan
berkuasa di Jawa. Beberapa diantaranya :
1.
Masjid Agung Banten
https://beritagar.id/artikel/berita/hari-ini-12-tahun-lalu-banten-jadi-provinsi
Gambar 2.1
Masjid Agung Banten
Masjid Agung Banten terletak di Desa Banten Lama, Kota Serang. Masjid ini
dibangun masa kepemimpinan putera Sunan Gunung Jati yaitu Maulana Hasanuddin
pada tahun 1652. Masjid ini memiliki corak yang unik pada menaranya yang
berbentuk seperti mercusuar, serta atapnya menyerupai pagoda khas China. Di
sekitar kompleks masjid juga terdapat makam para sultan Banten dan keluarganya.
2.
Istana Keraton Surosowan
https://lifestyle.okezone.com/read/2017/11/21/406/1817919/keraton-surosowan-banten-jelajah-misteri-kolam-pemandian-8-bidadari-dan-2-ekor-macan-gaib-yang-kerap-muncul
Gambar 2.2
Sisa peninggalan istana keraton surosowan
Istana ini
dibangun tahun 1522-1526 pada masa Maulana Hasanuddin. Pada awalnya istana ini
selain sebagai pusat pemerintahan sultan Banten dan juga tempat tinggal, juga
difungsikan sebagai Bandar pusat perdagangan. Pada masa sultan Banten
berikutnya, bangunan ini terus ditingkatkan dan dikembangakan.
Saat ini bangunan
keraton hanya tersisa reruntuhannya saja dan tidak secara utuh. Hanya tersisa
pondasi-pondasi dari kamar-kamar yang ada.
3.
Benteng Speelwijk
Benteng ini
didirikan pada 1684-1685 di bekas benteng Kesultanan Banten yang hancur. Dirancang
oleh Hendrick Lucaszoon Cardeel. Diberi nama Speelwijk karena untuk mengormati
Gubernur Jenderal Speelma. Dibangun untuk mengantisipasi serangan rakyat Banten
khususnya pengikut Sultan Ageng Tirtayasa.
https://engineear.co/2010/11/29/surosowan-banten-lama-iii-speelwijk-kaibon/
Gambar 2.3
Benteng Speelwijk
4.
Vihara Avalokitesvara
Gambar 2.4 Vihara Avalokitesvara
Walaupun Kesultanan Banten berbasis islam, namun toleransi pada masa itu
sangat tinggi. Terbukti dulu di wilayah Banten tepatnya Desa Dermayon beridiri sebuah vihara yang
dibangun oleh Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Pada 1774 vihara ini
dipindahkan ke kawasan Pamarican.
Dalam ukiran yang terdapat pada dinding vihara, menceritakan saat vihara
ini digunakan sebagai tempat berlindung saat tsunami dan meletus Guung Krakatau pada 1883.
5.
Meriam Ki Amuk
Gambar 2.5 Meriam Ki Amuk
Meriam ini dibuat oleh seorang Portugis yang bernama Koja Zaenal. Meriam
ini dibuat di daerah Jawa Tengah. Sejak ada sekitar abad ke-17. Meriam ini
dibuat atas pesanan dari Sultan Trenggono untuk diberikan kepada Sultan
Hasanuddin sebagai maskawin.
6.
Istana Keraton Kaibon
Gambar 2:6
Istana Keraton Kaibon
Istana ini terletak di Kampung Kroya, Kecamatan Kasemen. Dibangun pada
1815 sebgai tempat tinggal Ratu Aisyah. Nama Kaibon diambil dari kata keibuan
yang bermakna lemah lembut dan kasih sayang. Pada 1832 keraton ini dihancurkan
oleh pihak Belanda yang dipimpin Daendels. Hal ini terjadi karena Daendels
marah ketika Sultan Banten menolak untuk melanjutkan pembangunan jalan raya
anyer-panarukan.
7.
Danau Tasikardi
https://merahputih.com/post/read/danau-tasikardi-peninggalan-sultan-banten-untuk-sang-ibunda
Gambar 2.7 Danau
Tasikardi
Danau buatan ini terletak di sekitar Keraton Kaibon. Dibuat pada masa
Sultan Maulana Yusuf antara 1570-1580. Danau ini berfungsi sebagai pasokan air
untuk keluarga kerajaan. dan juga sebagai saluran irigasi untuk persawahan di
sekitar Banten. Bagian tengah danau ini terdapat pulau buatan yang diberi nama
Pulau Kaputren.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesultanan Banten terletak di pesisir Jawa Barat
bagian utara hingga ke wilayah Lampung. Kesultanan Banten awalnya adalah negara
bagian dari Kerajaan Demak. Namun karena kehancuran Demak, maka Banten menjadi
Kesultanan yang berdiri sendiri.Islamisasi di Banten sendiri dipelopori oleh
Sunan Gunung Jati. Pendiri Kesultanan Banten ialah Maulana Hasanuddin. Berdiri
sekitar tahun 1552.
2.
Masa keemasan Kesultanan Banten terjadi pada masa
kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682). Ditandai dengan perkembangan
kota yang begitu pesat. Sultan Ageng melakukan pembangunan untuk fasilitas
rakyat seperti saluran air. Selain itu hubungan perdagangan dengan negara lain
juga ditingkatkan. Sehingga perekonomian Banten meningkat secara pesat.
3.
Runtuhnya Kesultanan Banten terjadi karena
adanya perpecahan dari dalam. Terjadi antara Sultan Haji dengan ayahnya yaitu
Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Haji bersekongkol dengan Belanda untuk melawan
ayahnya. Walaupun berhasil hal itu membuat Belanda dengan mudahnya merebut
Kesultanan Banten. Akhirnya Banten dikuasai oleh Belanda.
4.
Peninggalan Kesultanan Banten. Ada yang berebentuk
bangunan seperti, Istana Keraton Surasowan, Istana Keraton Kaibon, dan Vihara
Avalokitesvara. Dan ada sebuah danau yang bernama Danau Tasikardi. Selain itu
ada sebuah meriam yang biasa disebut Meriam Ki Amuk.
Kita sebagai
generasi muda haruslah merawat dan menjaga peninggalan kerajaan-kerajaan zaman
dahulu, agar dapat tetap bisa dipelajari di masa depan.
DAFTAR PUSTAKA
Lubis, N. H. (2004). Banten Dalam Pergumulan
Sejarah. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia.
Novaly, R. (2016, Februari 13). Melihat dari Dekat
Peninggalan Kesultanan Banten. Retrieved from Kompasiana:
https://www.kompasiana.com/rushanovaly/56beeb86d47e61d504238e6f/melihat-dari-dekat-peninggalan-kesultanan-banten?page=all
[1] Dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari
[2] Diceritakan bahwa dalam
acara menyabung ayam di Gunung Lancar yang dihadiri oleh banyak pembesar
negeri, dua orang ponggawa Pajajaran, Mas Jong dan Agus Jo memeluk islam
[3][3]
Dalam tradisi Makassar beliau dikenal sebagai Tuanta Salamaka atau Syekh
Yusuf Taj’ul Khalwati
[4] Dalam hubungan dengan
Inggris, pada tanggal 10 November 1681 dengan menggunakan kapal Inggris
dikirimkan utusan Sultan ke negeri Inggris di bawah pimpinan Jaya Sadana.
[5] Isi perjanjian yang paling berat ialah pasal 5
yang menyatakan bahwa kerugian-kerugian dan kerusakan yang terjadi sejak tahun
1659 akibat tindakan Sultan Banten harus dibayar dengan uang sebesar 12.000
ringgit. Dan juga pasal 9, yang menyatakan sultan berkewajiban untuk waktu yang
akan datang, tidak akan mengadakan perjanjian dengan bangsa lain.
Komentar
Posting Komentar