Langsung ke konten utama

REVIEW JURNAL : "Chinese Cultural Revolution In 1966-1976"


REVIEW JURNAL
Judul                  : Chinese Cultural Revolution In 1966-1976
Jurnal                 : Historica
Nomor               : Volume 2, no 1
Halaman            : 26-36
Tahun                : 2018
Nama Penulis    : Fajar Harianto, Sumardi, Sugiyanto
Sumber              : Jurnal Historica UNEJ
Reviewer           : Nashrul Mahfudhin Ersa
Tanggal             : 16 Oktober 2019

ABSTRAK

Revolusi Kebudayaan adalah kampanye hebat yang membuat Cina menderita kelumpuhan pada tahun 1966 - 1976 dipimpin oleh Mao. Revolusi Kebudayaan karena ada dua faktor, yang pertama adalah menurunnya kepercayaan publik terhadap Mao atas kegagalan kebijakan melompati jauh ke depan sehingga Mao mundur dari pemerintah. Kedua, Mao ingin mengembalikan Tiongkok ke komunisme, karena Tiongkok telah dipengaruhi oleh kapitalis dan liberal. Budaya Revolusi telah gagal dan mengakibatkan banyak korban, terutama para petani dan pekerja.
PENDAHULUAN
        Pengumuman kebijakan seratus bunga berkembang yang dilakukan Mao pada tahun 1956, secara teoritis memberikan kebebasan untuk berkembang pada bidang seni, sastra, dan riset ilmiah. Kritik yang dikemukakan oleh para kaum terpelajar dan kaum intelektual sangat dibutuhkan oleh Negara untuk perkembangan politik, ekonomi, dan sosial di Cina serta untuk mengetahui data tentang dukungan para kaum terpelajar dan kaum intelektual terhadap partai Kuo-Can-tang. Mao menggunakan kebijakan seratus bunga berkembang untuk menguji para kader-kader partai serta masyarakat Cina yang dicurigai akan memberontak. Para kaum intelektual yang mengkritik secara pedas pemerintah dan partai dituduh sebagai kapitalisme yang beraliran kanan, sehingga Mao Tse Tung mengeluarkan kebijakan baru yaitu kebijakan anti kanan atau anti kapitalisme (Willem, 1982:145).
           Pembaharuan Cina dianggap belum tuntas oleh jajaran elit partai, para elite partai menganggap kebijakan lompatan jauh kedepan telah gagal karena tidak bisa mewujudkan cita-cita masyarakat sosialis. Terjadi perpecahan kepemimpinan didalam elite partai serta perbedaan pandangan ideologis dan strategi pembangunan akibat dari kegagalan kebijakan lompatan jauh yang dikeluarkan oleh Mao. Peng-De-huai yang menjabat Menteri Pertahanan Nasional, pada sidang Komite Sentral Partai (1959) melontarkan kritik keras serta menimpakan kesalahan kepada Mao. Pemecatan Peng-De-huai dari kedudukannya setelah melakukan kritik keras di sidang Komite Sentral Partai, Mao menyebut Peng-De-huai sebagai pengikut kaum kapitalis yang berusaha menyebarkan paham kapitalis kembali di wilayah Cina. Insiden tersebut mengawali Revolusi Kebudayaan
           Periode penting didalam politik Cina setelah tahun 1949 adalah Revolusi Kebudayaan Proletar. Revolusi Kebudayaan merupakan kampanye besar yang terjadi di Negara Cina, yang mengakibatkan produksi industri Cina berhenti total. Bangunan-bangunan bersejarah hancur, klenteng, masjid, dan kota-kota besar mengalami kelumpuhan serta mengakibatkan sebesar 729.511 jiwa menjadi korban.
         Pada bagian ini penulis menjelaskan bagaimana kebijakan yang muncul pada masa presiden Mao mengalami kegagalan yaitu kebijakan lompatan jauh yang dimulai pada awal 1958. Reaksi atas kegagalan lompatan Jauh kedepan membuat Mao mundur dari jabatannya sebagai Presiden Cina. Liu Shaoqi ditunjuk sebagai pengganti Mao pada saat Konggres Rakyat Nasional pada tahun 1959. Revolusi Kebudayaan dikeluarkan Mao sebagai pemimpin partai komunis karena merasa kepemimpinan Liu Shaoqi dan Deng Xiao ping di pemerintahan mulai meninggalkan unsur-unsur dari paham komunis yang dianut. Berlangsungnya kebijakan Revolusi Kebudayaan negara Cina mengalami kelumpuhan total, tidak beroprasinya industri-industri baja, berhentinya sektor pertanian dan juga membawa perubahan yang signifikan pada negara Cina.

PEMBAHASAN
            Pada bagian ini dipaparkan mengenai hasil kajian dan pembahasan tentang revolusi kebudayaan Cina pada tahun 1966-1976. Kegagalan dalam program lompatan besar ke depan membuat Mao mundur dari kursi kepresidenan Cina, akan tetapi Mao masih tetap merupakan pemimpin tertinggi didalam partai Kuo-Can-tang. Kursi kepemimpinan di berikan kepada Liu-Shao-qi dari kaum pragmatis yang dipercaya oleh Konggres Rakyat Nasional untuk mengatasi akibat dari kebijakan Lompatan Jauh Kedepan.Mao yang menjabat sebagai pemimpin partai mengeluarkan kebijakan Revolusi Kebudayaan karena perseteruan Mao dan Liu semakin memanas. Mao menuduh Liu-Shao-qi beraliran kanan yang mendukung liberalism dan kapitalisme kembali berkuasa wilayah Cina.
            Revolusi kebudayaan digerakan dan dipimpin oleh sejumlah elite politik dibawah komando Mao dan merupakan kampanye politik nasional. Revolusi Kebudayaan dimaksudkan untuk menguji seluruh pejabat di kursi pemerintahan maupun partai, serta untuk mengetahui kesetiaan para kader-kader partai dan membersihkan mereka yang tidak setia terhadap kepemimpinan Mao-Tse-tung. Mao beranggapan banyak pejabat pemerintahan dan partai telah menjadi kaum borjuis dan korup.Revolusi Kebudayaan sebagai jalan keluar untuk memperbaiki pemerintahan serta partai dan sebagai perjuangan kelas untuk menyelesaikan konflik antara kaum proletar dan borjuis.
            Revolusi Kebudayaan berlangsung melalui empat tahap,
1.      Tahap Pertama
            Pusat Partai Komunis Cina, memberikan intruksi kepada para pemuda terutama mahasiswa dan pelajar agar ikut serta didalam revolusi kebudayaan Cina. Satuan khusus pemuda atau juga disebut garda pengawal merah (Hung wei-ping) telah melancarkan aksi di sekolah- sekolah dan universitas ditutup pada musim semi tahun 1966.
2.      Tahap Kedua
            Para kader-kader loyalitas Mao serta para pelajar turun ke jalan berdemonstrasi mendukung ketua Mao-Tse-tung, meneror golongan lawan-lawan dari Mao-Tse-tung, dan menghancurkan kebudayaan borjuis.
3.      Tahap Ketiga
            Gerakan perebutan kekuasaan di seluruh daerah pedalaman serta di berbagai unsur pemerintahan yang berlangsung pada tahun 1966-1968.
4.      Tahap Keempat
            Tahap Revolusi Kebudayaan berakhir pada bulan April 1969, ditandai dengan Konggres Partai Komunis Nasional ke-9 yang diselenggarakan oleh pengikut setia Mao. Konggres Partai Komunis Nasional ke-9 mengangkat Mao-Tse-tung menjadi pemimpin tertinggi dan Lin Biao tangan kanan Mao diberikan posisi sebagai Wakil Ketua Partai Komunis Cina untuk menggantikan Mao.Para kader-kader setia Mao diberikan posisi kekuasaan di Politbiro, sejumlah komandan militer ditunjuk sebagai anggota Komite Sentral (Sukisman, 1993:101).

KESIMPULAN
            Berdasarkan hasil kajian yang dideskripsikan dalam pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mendorong terjadinya Revolusi Kebudayaan adalah yang pertama, pada tahun 1957 terjadi peristiwa penyingkiran kaum-kaum intelektual oleh Mao, Para kaum intelektual dianggap sebagai tangan kanan dari kapitalisme yang akan menguasai wilayah Cina kembali; Kedua, penekanan terhadap pembangunan dan pembaharuan industri-industri maju serta mengesampingkan pembaharuan di bidang pertanian yang memiliki konsentrasi massa terbanyak di wilayah Cinadalam pelaksanaan kebijakan LompatanJauh ke Depan; Ketiga, memulai mengkritik keras partai dan memfitnah para pemimpin partai yang tidak loyal terhadap mao dan kebijakan Lompatan jauh kedepan melaluipembentukan Komite Pusat VIII (1959).
            Proses yang dilakukan Mao-Tse-tung dalam melaksanakan kebijakan Revolusi Kebudayaan adalah Mao-Tse-tung sebagai kepala Negara dan pemimpin partai memperkenalkan ajaran marxisme-leninisme untuk mengubah ideologi masyarakat Cina tentang pemerataan pembangunan agar berfikir lebih maju. Mao melihat keadaan realita wilayah Cina yang agraris untuk menyesuaikan pemikiran mao tentang pembangunan sosialis,dengan demikian mao beserta pengikutnya mendapatkan dukungan penuh dari massa petani yang berada di wilayah pedesaan. Revolusi kebudayaan dicetuskan pada tahun 1966, massa pengikut Mao yang disebut tentara merah dipergunakan untuk mengeksekusi dan menghilangkan segala hal yang sudah terpengaruhi oleh kebudayaan barat dan juga kapitalis. Para massa tentara merah yang terdiri dari para kaum terpelajar muda menjadi tak terkendali dalam melaksanakan kebijakan Revolusi Kebudayaan, banyak sekolah-sekolah maupun universitas lumpuh total. Pelaksanaan kebijakan Revolusi Kebudayaan membawa korban yang cukup banyak, para kader yang tidak setia terhadap Mao difitnah dan diberikan hukuman mati oleh partai karena dianggap sebagai kaki tangan kapitalis.
            Hasil yang dicapai Mao-Tse-tung di dalam pelaksanaan kebijakan Revolusi Kebudayaan adalah Rakyat Cina tidak menyetujui ide-ide Mao tentang anti kanan yang terlalu radikal sehingga terjadinya pelanggran norma-norma sosialis komunisme karena terjadinya penggulingan antar kelas masyarakat yang tidak sesuai cita-cita sosialis dan menyalahgunakan kebijakan untuk melakukan pemfitnahan terhadap musuh-musuh dari Mao. Revolusi Kebudayaan adalah alat yang dipergunakan Mao untuk menutupi kegagalannya pada kebijakan lompatan jauh kedepan yang berakhir kekecewaan rakyat terhadap Mao. Kegagalan Revolusi kebudayaan menambah kesengsaraan terhadap rakyat cina karena melumpuhkan perekonomian di cina dan semakin kacaunya bidang politik di Cina.


Kelebihan
           Pada tulisan ini menjelaskan secara singkat namun jelas mengenai sebelum munculnya revolusi kebudayaan di Cina hingga tahap-tahap revolusi dan akhir-akhir revolusi. Dengan demikian pembaca dengan cepat bisa memahami tulisan ini tanpa perlu membaca lebih banyak. Dan juga pembaca akan memahami peristiwa revolusi kebudayaan dengan mudah.

 
Kekurangan 
              Dalam tulisan ini terdapat beberapa kekurangan diantaranya penulis tidak menjelaskan latar belakang tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa revolusi tersebut, sehingga pembaca akan sedikit kesulitan ketika menggambarkan tokoh yang terlibat itu. Kemudian penulis kurang menjelaskan bagaimana dampak yang dirasakan tokoh lain dalam peristiwa revolusi itu.

Tambahan
Revolusi budaya yang terjadi di Cina seperti yang telah dijelaskan diatas memiliki kesamaan dengan Revolusi Hungaria pada tahun 1956. Yakni kedua revolusi ini terjadi dengan pemeran utama yaitu para kaum muda atau pelajar. Untuk lebih mengerti Revolusi Hungaria 1956 anda bisa mengunjungi Revolusi Hungaria 1956.


Komentar

  1. Mengapa revolusi kebudayan Mou mengalami kegagalan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena rakyat melihat bahwa kebijakan dari Mao itu terlalu radikal sehingga banyak melanggar norma-norma dan melakukan fitnah terhadap musuh-musuhnya

      Hapus
  2. Apa yang menyebabkan Cina tidak bisa mewujudkan cita-cita masyarakat sosialis?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dikatakan belim berhasil karena ada pandangan dari Mao terhadap kaum intelektual. Pandangan terhadapkaum intelektual yang mengkritik secara pedas pemerintah dan partai dituduh sebagai kapitalisme yang beraliran kanan. Sehingga terjadi kesalahan pahaman antara pihak pemerintah dengan rakyat yang mengkritik dengan pemerintah.

      Hapus
  3. Apakah konsep yang diterapkan oleh Mao sama dengan paham komunisme atau lebih condong ke paham lainnya. Lalu paham maoisme sendiri apakah berkaitan dengan revolusi kebudayaan ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya Mao ini melancarkan revolusi kebudayaan untuk bisa mempertahankan paham komunisme yang dia pegang sejak dulu. Mao melakukan revolusi kebudayaan karena melihat makin banyaknya kaum elit yang mulai membelot dari paham yang dipegang oleh Mao. Mao melihat bahw kritik yang dikemukakan mereka dituduh sebagai kapitalisme yang beraliran kanan, sehingga Mao ingin "membersihkan" mereka.

      Sebenarnya Mao melakukan revolusi kebudayaan ini masih berpegang pada paham komunisme yang dipegangnya.

      Hapus
  4. Bagaimana upaya Mao dalam menuntaskan Revolusi Kebudayaan yang dibuatnya, yang masih banyak menemui kegagalan ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Revolusi kebudayaan ini masih terjadi hingga Mao dijemput oleh kematiannya. Untuk menyelesaikannya Mao memberi amanah kepada para penganut setianya untuk bisa menyelesaikan revolusi ini.

      Hapus
  5. Pembaharuan Cina dianggap belum tuntas oleh jajaran elit partai,maksud dari pernyataan tersebut itu apa?dan apa hanya elit partai yang dapat membuat pembaharuan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jajaran elit partai melihat bahwa kebijakan Mao berupa lompatan jauh ini dianggap belum tuntas dan mengalami kegagalan besar. Dalam sebuah pemerintahan yang diharapkan oleh rakyat ialah sebuah perubahan yang menjadi lebih baik. Dalam negara biasanya rakyat menaruh harapan pada para elit untuk bisa melakukan pembaharuan.

      Hapus
  6. Apakah ajaran marxisme-leninisme yang disebarkan mao berhasil diterapkan pada seluruh masyarakat Cina?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya ajaran tersebut sempat berhasil diterapkan di seluruh masyarakat Cina. Namun setelah Mao menjadi pemimpin negara dan membuat kebijakan lompatan jauh para elit partai lain melihat bahwa kebijakan ini belum bisa membuat pembaharuan di Cina. Oleh sebab itu mereka banyak mengkritik kepemimpinan Mao. Kritik inilah yang dianggap Mao secara pribadi menilai bahwa mereka tidak lagi memiliki ideologis yang sama. Sehingga Mao menuduh mereka sebagai pengikut kapitalisme

      Hapus
  7. Bagaimana penyelesaian akhir dari revolusi kebudayaan pasca meninggalnya mao

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setelah Mao meninggal dan berakhirlah revosi kebudayaan, pimpinan dipegang oleh Deng Xiaonping secara perlahan-lahan mulai menghilangkan kebijakan-kebijakan dari Mao yang ada pada masa Revolusi Kebudayaan. Masa Deng Xiaonping melalui partainya mendeklarasikan "bertanggung jawab atas penggantian rugi paling besar dan kehilangan paling parah yang dialami oleh Partai, negara, dan rakyat sejak pembentukan Republik Rakyat". Sehingga rakyat sudah mulai menerima dan membuka pandangan pada pemerintah.

      Hapus
  8. pandangan ideologis dan strategi pembangunan serta kebijakan -kebijakan apa saja yang di keluarkan oleh Mao ? Dan kritikan apa yang di lakukan oleh menteri pertahanan Peng-De-huai ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam strategi pemerintahannya Mao mengeluarkan kebijakan yang disebut "Lompatan Jauh" dalam kebijakan ini pemerintah melakukannya lewat dua jalur, yaitu pada peningkatan produksi baja sebagai bahan baku, pendirian industri ringan serta konstruksi.

      Kritikan yang dilontarkan oleh Peng-De-Huai ialah mengenai dampak dari kebijakan ini. Pada kebijakan ini sektor industri lebih ditekankan. Sehingga banyak tenaga kerja di bidang agraris yang ditransfer ke bidang industri. Inilah yang menjadi alasan Peng-De-Huai mengkritik Mao. Karena dengan ditransfernya tenaga kerja tersebut ke industri membuat pertahanan pangan saat itu mengalami penurunan. Yang akhirnya membuat bencana kelaparan terjadi di berbagai daerah.

      Hapus

Posting Komentar